What a nice Sunday, though little bit tired :D. Alhamdulillah banyak mendapat inspirasi hari ini (sungguh hingga merinding dan sedikit berkaca-kaca, hehe).
Kuliah Dhuha Ahad Al-Azhar pagi ini dibawakan oleh Dr. Ir. H. Nana Rukmana DW, MA dengan topik “Menggapai Derajat Istiqamah”. Cukup familiar bukan dengan kata ini? Kemarin-kemarin salah satu Pansus Century pun sempat mendengungkan janji-janji beristiqamah. Well entahlah dalam konteks kebenaran atas persepsi pribadi/kelompok ataukah memang kebenaran yang hakiki.
Kebenaran apa yang harus diistiqamahi? tak lain tak bukan adalah kebenaran karena Allah SWT. Istiqamah dalam surat Al Ahqaff ayat 13 diartikan teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal saleh. Orang yang yakin kepada Allah, tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Banyak dikisahkan, orang yang istiqamah tetap memegang keyakinannya meskipun dengan itu harus mengorbankan materi atau hal lainnya.
Ciri-ciri Istiqamah yaitu : 1. memegang kebenaran bukan menurut persepsi diri atau kepentingan kelompok tapi kebenaran yang datangnya dari Allah. Dan kebenaran yang datangnya dari Allah bersifat universal, persepsinya pasti sama, bersumber pada Al-Qur’an (Al-Baqarah :2). 2. tidak takut akan konsekuensi keimanan dan kebenaran, meskipun ujian datang tetap konsisten dengan keimanan tersebut. 3. tidak menyesal bila risiko menimpanya.
Sudah merasa memiliki ciri-ciri tersebut? Jika belum, mari bersama untuk mencoba kiat-kiat berikut ini : 1. harus memahami ajaran Islam dengan baik. Tidak cukup hanya meyakini tapi harus Tolabul ilmi, memahami, agar menjadi muslim yang berkualitas. Inti Ajaran Islam yang bisa dipelajari terdiri dari Aqidah, Syariah, dan Akhlak. 2. mendekatkan diri kepada Allah. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Dekat. 3. bergaul dengan orang-orang yang lebih saleh dari kita. 4. mengenal dan meneladani orang-orang terdahulu yang istiqamah.
Begitulah pada intinya bahasan Istiqamah pagi ini. Pak Nana banyak memberikan kisah-kisah nyata yang terjadi sebagai wujud istiqamah maupun kisah nyata yang terjadi sebagai wujud runtuhnya keyakinan.
But lucky me, hari ini di panti yang saya kunjungi, saya menemukan bukti nyata sebuah keistiqamahan. Terkisah 25 tahun lalu, Umi, yang menjadi pendiri panti ini, dengan kondisi baru ditinggal suami dan memiliki 8 anak, beliau memiliki niat luar biasa menampung anak-anak yatim piatu untuk tinggal bersamanya seadanya. Beliau tidak pernah takut akan kekurangan materi untuk menghidupi kesemuanya karena beliau yakin ini adalah celengannya untuk akhirat, kebaikan dengan niat Ibadah kepada Allah dan beliau yakin akan Allah akan mengirimkan “malaikat-malaikat” untuk membantunya. Dan benarlah, meskipun terkadang terseok-seok, beliau dan anak-anak panti bisa bertahan hingga sekarang. Malaikat-malaikat itu datang membawa materi, tawa untuk segenap penghuni panti. Kami yang baru hanya datang untuk mengajukan niat baik sudah dihujani do’a dan sapaan “malaikat-malaikat” Allah. Betapa terharu dan hmm merasa belum cukup pantas. Dan saya merasa kecil..yang terkadang mengeluh dan merasa tidak banyak daya untuk melakukan kebaikan, selalu menunda-nundanya, dengan alasan tidak mampu lah, kurang materi lah, dan beribu alasan yang jika dicari-cari selalu ada. But look at her, Umi, she did it!
Betapa bersyukurnya saya untuk inspirasi yang Allah datangkan untuk menjadi pembelajaran dan lecutan untuk selalu memperbaiki diri dan lebih baik lagi kedepannya. Inspirasi secara teori dan wujud nyata istiqamah saya dapatkan hari ini. Semoga menjadi bekal yang berarti kedepannya, Bismillahirahmanirrahim :)
Sunday morning… hehe mengantuk sekali sih tapi niat untuk sarapan rohani harus konsisten dijalankan. Setelah ada masalah teknis sedikit, akhirnya sampai juga di Al-Azhar telat-telat sedikit.
Kuliah dhuha kali ini dibahas mengenai Tafsir Al FAtiha oleh Drs. Salim Bin Yahya Qibas. Sayangnya pembahasan tidak sampai tuntas karena Da’i-nya kurang sehat, jadi hanya satu ayat Al Fatiha saja. But well, ilmu biarpun sedikit tapi berarti bukan..? ;). Jadi berikut ini banyak improvisasi yang saya tambahkan, hehe..
Allhamdulillahi rabbil ‘alamiin, Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam, Praise be to God The lord of the universe, ayat dari surat Al-Fatiha, dan sebuah penggalan yang kita panjatkan dikala bersyukur. Alam disini merupakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Lalu Siapa dan apakah Rabb itu?
Pertama, Rabb adalah Allah sang pencipta. Alam tidak mungkin ada tanpa pencipta dan Allah lah pencipta segala sesuatu. Bolehlah teknologi buatan manusia, tapi manusia tidaklah menciptakannya, dia tidak bisa membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada, dia hanyalah merekayasa, hanya merakit, semua bahannya adalah ciptaan Rabb sang pencipta. Allah pencipta segala sesuatu dan Dia maha pemelihara segala sesuatu (Az Zumar:62).
Kedua, Rabb adalah pemilik mutlak, Al Malik. Karena Dia pencipta maka alam ini adalah miliknya, apa yang kita miliki sesungguhnya milik Allah. Segala urusan di langit dan bumi akan kembali pada-Nya
Ketiga, Rabb adalah pengatur. Allah mengatur apa yang diciptakannya. Analoginya, manual book untuk peralatan yang kita punya adalah buatan si pembuatnya, dialah yang paling mengetahui tentang apa yang dibuatnya. Begitu juga Allah sang Maha Pengatur, Dia mengetahui segala sesuatu tentang ciptaannya dan senantiasa mengatur apa yang diciptakannya. Lahirlah takdir, firman Allah, yang kita sebagai manusia tidak bisa memilihnya karena Allah sudah mengatur dan menentukannya untuk kita. Pernahkah kita memilih untuk menjadi wanita, menjadi laki-laki, memilih ibu, memilih ayah? Saya rasa tidak, Dialah Maha Pengatur.
Alhamdulillah bisa berkesempatan untuk sarapan rohani pagi ini. Kuliah Dhuha Ahad di Al-Azhar pagi ini bertopik "Problematika Manusia Ditinjau Secara Ilmiah" oleh Drs. Edi Warman Munir, hmm tampak berat ya? hehe..Mari kita ulas sedikit disini (yang berhasil penulis rangkum tentunya, dengan segala maaf jika ada yang terlewat atau terjadi kesalahan penulisan maupun persepsi, Astagfirullah).
Pada intinya dibahas mengenai "ilmu", kadang kita tidak tahu kondisi keilmuan kita dan dari mana sebenarnya ilmu itu berasal. Yang kita ketahui selama ini ilmu merupakan serangkain keterangan yang didukung oleh fakta. Sedangkan menurut firman Allah surat An-Najm ayat 28, manusia tidak memiliki ilmu, yang dimunculkan manusia hanyalah dugaan. Dan ilmu yang tak lain hanya asumsi itu dilakukan manusia untuk mempertahankan hidup. Menurut firman Allah, ilmu itu hanya disisi Allah, merupakan rangkaian keterangan Allah yang dijelaskan fakta. Maka jika ditanya apakah sumber ilmu? kita selayak umat Islam harus bersumber pada firman Allah tersebut.
Syarat-syarat ilmu yaitu : 1. Tanzil, ilmu itu turun dari Allah. Selama ini kebanyakan manusia menggunakan dasar atau bersumber pada kausalitas verbal (tantangan dan jawaban. 2. Ilmu menjelaskan fakta dan bersifat komprehensif 3. Ilmu tidak bisa ditiru dan dipalsukan 4. Ilmu itu objektif/tepat sasaran. Sasaran ilmu itu sendiri yaitu bagaimana agar manusia bisa melanjutkan hidup dan bagaimana manusia menjalankannya dengan harmonis. 5. Ilmu itu milik Allah.
Wujud Ilmu itu ada 2 yaitu : 1. Ciptaan Allah, yaitu langit bumi dan segala yang ada di dalamnya 2. Ajaran Allah, yang diturunkan kepada Nabi Adam berupa Asma, Kepada Nabi Ibrahim dalam suhuf, lalu pada Nabi Daud dalam Zabur, selanjutnya ada taurat, Injil, lalu kesemua itu disempurnakan dalam Al-Qur'an. Al-Qur'an memiliki ciri ilmu dimana antara ayat yang satu dengan yang lainnya tidak ada yang bertentangan, isinya dijamin oleh Allah SWT. Kasus yang bertentangan hanyalah perbedaan tafsir yang dilakukan manusia.
Hmm mungkin yang sudah terbiasa mengenyam ilmu umum atau apapun yang telah dipelajari selama ini, akan sedikit bingung dengan topik pagi ini, hehe..But the point is in the holy Qur'an, there are sources of all knowledge that humans need for survival and even live it in harmony.
Mari belajar dan mengkaji lebih baik lagi :D Mohon maaf sekali lagi jika ada kekurangan dalam rewrite kajian ini dan jika ada bagian yang terlewat. Dengan senang hati bagi yang ingin menambahkan maupun mengoreksi :)
Kadang suka "mellow" kalau harus kembali ke jakarta selepas dari Bandung. Dan ketika buka buku negeri 5 menara (yg belum sempat dibaca) ketemulah bait ini di halaman depannya, dari seorang ulama terkemuka pendiri mahzab Syafi'i, Imam Syafi'i. Hehe meskipun bukan di negeri orang seperti di bait ini, tapi rasanya bait ini cukup menyejukan hati, yah untuk berani berjuang dan terus menempa diri, dan percaya buah kerja keras dan kesabaran pasti akan manis :)
Orang yang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau kan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang takkan dapat mangsa Anak panah jika tak tinggalkan busur takkan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam Tentu manusia kan bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang dan Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika masih di dalam hutan
Hmm 24 tahun sudah diberi amanat hidup, 24 sperti satu putaran jam dinding, juga selayak 24 jam saja.. Pastinya waktunya untuk bercermin ke belakang agar refleksi ke depan lebih baik lagi. Ada artikel yang pas banget buat hari ini, artikel ini diketik ulang dari majalah Tarbawi edisi 24 tahun 2001. Semoga bisa jadi bahan perenungan buat kita semua…Selamat menjalani hari ini dan menyongsong masa depan semua :)
Hari itu Umar bin Khattab menangis. Terbayang lekat dipelupuk matanya, kisah masa lalunya sebelum Islam. Sebuah rentetan episode jahiliyah yang pahit dan sulit terlupakan. Air matanya mengalir deras saat teringat anak perempuannya yang ia kubur hidup-hidup. Suara anak itu serasa masih memanggilnya, sayup-sayup meminta belas kasihnya.
Peristiwa itu benar-benar menggoreskan pilu yang sulit dihapus. Sesaat sebelum terbenam dibawah tanah, anak itu masih bermain riang mengiringi ayahnya yang menggali tanah dengan susah payah. Bahkan setiap kali debu dan sisa galian mengotori janggut sang ayah, anaknyalah yang penuh kasih membersihkan debu-debu itu. Ia tak sedikitpun mengerti bahwa galian itu dibuat untuk dirinya. Segalanya berlalu cepat dan umarpun mencatat peristiwa itu sebagai bagian dari sejarah hidupnya dimasa jahiliyah.
Waktu terus bergulir. Enam tahun sesudah Rasulullah diangkat menjadi Rasul, benih keimanan tersemai di dalam hati Umar bin Khattab. Sejak itu ia menjadi salah satu pembela Islam yag paling tegas. Bahkan ia yang mengusulkan dimulainya era perjuangan secara terang-terangan. Bersama Hamzah dan Umar, kaum muslimim keluar ‘unjuk kekuatan’ dihadapan orang-orang Quraisy. Bahkan dimasa selanjutnya, ia manjadi sahabat agung, menjadi khalifah kedua, dan termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga.
Ikrimah bin abu Jahal juga punya masa lalu. Anak tokoh besar Quraisy, Abu Jahal, itu tak kunjung masuk Islam. Bahkan hingga kota Mekkah, ditaklukkan oleh Rasulullah, ia tetap kukuh dengan kekafirannya. Ketika Rasulullah memutuskan bahwa termasuk salah satu yang harus dibunuh, Ikrimah melarikan diri. Akhirnya istri Ikrimah yang meminta agar Rasulullah memaafkan. Setelah mendapat jaminan dari Rasulullah, Ikrimah kembali dari pelarian lalu masuk Islam.
Saat menghadap Rasulullah itulah ia teringat apa yang telah ia lakukan pada masa lalunya. Karenanya ia ingin sekali menebus kesalahannya. Di hadapan Rasulullah, Ikrimah menyampaikan keinginannya, “Demi Allah, kalau umurku masih panjang, semua nafkah yang dulu aku keluakan untuk merintangi jalan Allah, akan aku lipat dari jumlah itu untuk berinfaq dijalan Allah.” Di kemudian hari ia mengisi hari-harinya dengan berislam secara baik. Ikrimah juga menjadi salah satu perawi hadits yang terkenal.
Seperti juga Umar, Ikrimah, dan para sahabat-sahabat Rasulullah yang lain, semua orang punya masa lalu, yang buruk maupun yang baik. Karena setiap langkah manusia adalah perilaku. Setiap kata yang terucap adalah perilaku. Segala tindakan yang dipilih adalah perilaku. Dan, segala yang telah kita lakukan akan tercatat dalam lembaran masa lalu kita. Setiap kita, setiap muslim, pasti punya masa lalunya sendiri. Yang menyedihkan ataupun yang menggembirakan. Masa lalu yang mungkin saja orang lain tidak pernah tahu. Bahkan orang yang sangat dekat sekalipun. Masa lalu yang hanya dirinya sendiri dan Allah saja yang tahu.
Seluruh yang pernah terjadi hanya bisa dilupakan, tetapi tidak akan pernah bisa dihapuskan atau dianggap tidak ada. Sebab ia telah terukir dalam sejarah peristiwa. Sesuatu yang pernah ada tidak mungkin dianggap tidak ada.
Tetapi bukan berarti masa lalu tidak punya manfaat. Justru keberadaannya menjadi sangat penting. Ia menjadi cermin bagi setiap orang untuk menata langkah hidupnya yang tersisa. Dalam Islam penghargaan fungsi masa lalu terletak pada dua hal mendasar.
Pertama, pada manfaatnya untuk tempat mengambil pelajaran. Artinya, manfaat masa lalu adalah untuk dijadikan tempat bercermin. Apa yang buruk dari masa lalu tidak boleh diulangi, sedang apa yang baik harus ditingkatkan. Pengalaman masa lalu adalah contoh konkrit dan bukti nyata dari bermacam ikhtiar. Masa lalu telah mengajarkan secara detail bagaimana orang gagal itu gagal, bagaimana orang sukses itu sukses, bagaimana orang sengsara itu sengsara.
Kedua, selain fungsi pelajaran, masa lalu menurut pandangan Islam adalah kumpulan anak tangga sejarah yang harus disambung dengan anak tangga yang baru. Hidup ini akan bergulir, dunia akan menjadi hidup, bila setiap generasi mengambil peran di zamannya masing-masing. Sebab dengan itu, ia telah menyambung masa lalu dengan sejarahnya hari ini. Sebab sejarah yang kita ukir hari ini akan mejadi masa lalu yang berharga bagi generasi sesudah kita. Begitu seterusnya.
Karenanya, jauh-jauh hari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam telah mengingatkan logika ini, ketika beliau bersabda, “Sesungguhnya sesudah kalian ada hari-hari yang menuntut kesabaran. Pada hari itu orang-orang yang teguh seperti yang kalian lakukan akan mendapat pahala 50 kali lipat dari kalian.” Para sahabat ingin menyakinkan, “Maksudnya 50 kali lipat dari pahala sesama mereka sendiri wahai Rasulullah?”, Rasulullah menjawab, “50 kali lipat pahala kalian” (HR.Tirmidzi). surah ini memberi landasan tentang anak tangga sejarah tersebut. Bahwa ketika hari kesabaran yang dimaksud itu tiba, hendaknya setiap muslim bersabar, berpegang teguh jalan Allah, seperti para pendahulu mereka. Dengan kesabaran dan keteguhan itu, Allah menjadikan pahala yang lebih banyak daripada pendahulu mereka. Dan, itulah inti dari kesinambungan sejarah.
Masa lalu yang paling dekat untuk diambil pelajaran adalah masa lalu diri sendiri. Ini akan memiliki arti sangat penting. Pertama, bila yang tercermini dari masa lalu adalah keburukan , maka seorang muslim akan bisa merasakan betapa tidak enaknya keburukan dan betapa indahnya kebaikan. Betapa gelapnya kekufuran dan betapa bercahayanya keimanan. Umar bin Khattan berkata, “Tidak ada yang mengerti nikmatnya Islam orang yang tidak mengerti rasanya Jahiliyah.” Maksudnya, kenikmatan Islam orang yang pernah merasakan kejahiliyahan akan sangat mendalam. Tak berlebihan, bila Allah Ta’ala mengumpamakan masuk Islamnya Umar seperti orang yang hidup sesudah mati hatinya.
Ketika Umar masuk Islam turunlah firman Allah yang artinya,
“Dan apakah orang yang telah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami beri padanya cahaya terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditenga-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita, yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikian Kami jadikan orang-orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am 122)
Setiap manusia sebenarnya mengerti dan mengenali tabiat dirinya. Dengan mengaca dan bercermin pada lembaran masa lalu, seseorang bisa melihat arah perjalanan hidup yang sedang ditempuhnya . ia bisa merasakan kearah mana pergeseran perjalanan hidupnya. Kearah yang lebih baik atau kearah yang lebih buruk..?
Kedua, bercermin pada masa lalu akan menyadarkan bahwa akibat dari seluruh pilihan hidup ini akan kembali kepada masing-masing orang. Setiap kita akan kembali pada Alah sendiri-sendiri. Allah Ta’ala berfirman, “sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan dibalakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, dan Kami telah melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan diantara kamu. Sungguh telah terhapuskan (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sekutu Allah).” (QS. Al An’am:6)
Segala pilihan hidup kita akan kembali kepada diri kita sendiri. Dan Allah Ta’ala menegaskan, “Sesunggahnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu) maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri. Dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu) maka kemudharatannya kembali padanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemeliharamu.” (QS. Al An’am:104).Orang yang mengerti bahwa dirinya tidak akan pernah diselamatkan oleh orang lain, tentu akan lebih peduli kepada dirinya sendiri. Kelak kita, siapapun kita, apapun marga kita, setinggi apapun derajat kita, akam memikul sendiri segala perilaku yang telah kita lakukan.
Ketiga, mengenang perjalanan yang telah lewat, akan memberikan motivasi untuk menambah amal-amal dan memperbanyak tabungan kebaikan. Sejujurnya, setiap orang bisa merabah-rabah, sejauh mana sebenarnya prestasi amal yang telah dibuatnya. Setiap kita bisa menghitung apa yang telah kita lakukan. Karenanya, Rasulullah mengabarkan kelak setiap orang yang mati dan hendak memasuki kuburan, bisa merasakan apa yang kira-kira yang akan dibalaskan untuk dirinya.
Bercermin pada masa lalu, bekerja keras pada hari ini, dan menata hari esok, hanyalah salah satu cara untuk menyiasati hidup ini sebaik mungkin. Sebab seperti yang telah dikabarkan oleh Rasulullah, setiap kita hanya akan menjadi salah satu dari 4 jenis orang. “Diantara manusia ada yang dilahirkan dalam keadaan beriman, lalu hidup sebagai orang mukmin, dan mati sebagai orang mukmin. Ada yang lahir dalam kekafiran, lalu hidup sebagai orang kafir, dan mati sebagai orang kafir. Ada yang lahir dalam keadaan beriman, hidup sebagai orang mukmin, dan mati sebagai orang kafir. Ada lagi yang lahir dalam kekafiran, hidup sebagai orang kafir, dan mati dalam keadaan beriman.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim)
Al-baqillani mengutip sabda Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassallam, “Sesungguhnya seorang mukmin itu berada diantara dua hal yang sangat menakutkan. Antara usia yang telah berlalu, ia tidak tahu apa yang diperbuat Allah terhadap usia yang telah lewat itu, dan antara usia yang tersisa, ia tidak tahu apa yang telah Allah tetapkan atas dirinya. Maka hendaklah setiap jiwa mengambil untuk dirinya sendiri. Dari dunianya untuk akhiratnya, dan dari masa mudanya untuk masa tuanya dan dari hidupnya untuk sesudah kematiannya. Demi Dzat yang jiwaku ada ditanganNya, tidak ada waktu sesudah kematian waktu untuk berusaha. Sesudah dunia tidak ada kehidupan kecuali surga atau neraka.
Tak terasa tahun cepat berganti, baru kemarin rasanya tahun baru 2009, sekarang sudah 2010 lagi. Baru kemarin rasanya mengalami apa, memiliki apa, bersama siapa, sekarang tidak mengalami itu, tidak memiliki itu, dan tidak bersama siapapun, ehehe what an implisit statement! :p
Bukan tipe yang suka pesta di malam tahun baru. Tapi malam tahun baru kali ini bisa menikmati keriaan dari jauh nan indah gemerlap. Di atap rumah teman di kawasan Jatiwaringin, malam itu kami bisa melihat pesta kembang api dari berbagai penjuru. Indah sungguh, dan betapa strategisnya posisi kami karena kembang api seolah mengelilingi kami dan juga terasa dekat. Pengalaman yang cukup mengesankan :). Ups, dan waktu terus berjalan bukan? waktunya meniti hari yang baru, cukup sudah tercengangnya. Dan tentunya memanjatkan do'a dan tafakur dalam hati bahwa tahun ini semoga lebih baik dari tahun yang lalu.
Let's PRAY...
Tahun baru 2010 ini kebetulan long-weekend. Mari berwisata kuliner :D
Yeap tanggal 1 januari dijadwalkan berwisata kuliner bersama Resty Yulidayani dan Meswati Fontianika (partner in crime, haha, no no partner in life :p). Disusun rencana akan menyusuri Es Podeng Setiabudi (yang akhirnya ke Soto Gebrak juga), Es Krim Ragussa, Bakoel Koffie dan Al-Safeer. Yang ternyata diselingi foto-foto di Istiqlal dan Taman Menteng, hehe. Let's EAT...
Es Podeng dan Soto Gebrak (Setiabudi, Depan SMA 3) Es Podeng ini dijual dalam gerobak (terpisah lho ya dari Soto Gebrak, gerobaknya ada di depan Soto Gebrak). Sang empu keduanya mungkin sudah melakukan simbiosis mutualisme, dimana penikmat soto gebrak bisa menikmati es podeng juga di tempat Soto Gebrak. Entah sebelumnya pernah makan es podeng atau tidak, tapi es podeng yang satu ini jempolan. Es podeng merupakan campuran dari sekoteng, kelapa muda, alpukat, kacang, tape, dan es krim. Es podeng ini bisa jadi suguhan penutup yang menyegarkan.
Teman makan es podeng kali ini yaitu Soto Gebrak Jangan harap ada ketenangan makan di rumah makan ini karena kerap terdengar suara keras, braaakk!!. Suara itu berasal dari bantingan botol kecap di atas papan kayu saat penjual meracik soto. Dari situ pulalah nama Soto Gebrak berasal, dari gebrak-gebrakan yang bisa menimbulkan berbagai sensasi. Bisa kesal, kaget pastinya, untuk yang ngantuk selamat karena anda pasti terjaga dan untuk yang latah selamat anda pasti menderita, haha. Slogannya pun tidak tanggung-tanggung menggelikan, yaitu “Senyum Boleh Marah Jangan”. Jadi tolong yang marah, segeralah baca slogan itu dan segera mengurut dada dan harap maklum.
Di Soto Gebrak ini makanan yang disajikan antara lain aneka sop dan soto, seperti soto daging, soto ayam, soto campur jeroaan, soto combi daging ayam (maksudnya campuran antara daging sapi dengan daging ayam) dan rawon. Selain Soto Gebrak, ada juga menu sampingan yakni perkedel, sate telur muda, sate empal goreng, sate usus ayam goreng,sate udang goreng dan sate ati-ampela, dan emping.
Soal rasa cukup tasty (Bumbunya terasa dan gurih) dan worthed lah ya, tapi saya rasa yang lebih menjual ya sensasinya itu. Harganya pun cukup terjangkau, di kisaran belasan ribu.
Es Ragusa (plus Juhi dan Asinan)
(Jalan Veteran I no. 10 Jakarta Pusat)
Next destination is Ragusa. Konon katanya tempat ini merupakan tempat es krim tertua di Jakarta. Pas sampai disana memang terjawab juga sih konon katanya itu. Saya pikir tempatnya akan seperti “tempat es krim” yang lux semacamnya, ternyata ketika masuk benar-benar bernuansa zaman dahulu (well saya ga mau juga bilang itu kuno, hehe). Bangunan bergaya Belanda (meskipun disebutkan Ragusa Es Italia) dilengkapi kursi rotan dan meja yang sederhana. Sekeliling dinding terpajang foto-foto hitam putih jaman dahulu dan ornament-ornamen antik. Pemilik tampak ingin mempertahankan nuansa antik dan tempo dulu. Tentu saja bukan sekedar menikmati nuansa tempo dulu, yang lebih penting adalah es krimnya. Jenis-jenis es krimnya unik-unik, ada spaghetti ice cream, banana split, special mix, cassata siciliana, tutti frutti, chocolate sundae, nougat, dsb. Kami sepakat untuk memesan spaghetti ice cream dan cassata siciliana. Jangan bayangkan es krim rasa spaghetti lho, disebut spaghetti karen desain bentuk es krimnya seperti spaghetti. Sedangkan cassata siciliana berbentuk seperti kue bolu berwarna warni, nah yang ini memang ada sisipan kue seperti bolu di tengahnya. Untuk spaghetti dan siciliana ini harganya kisaran 25-30 ribu. Rasanya?? Yummyy!!
Konon katanya lagi, es krim disini menggunakan bahan-bahan berkualitas mulai dari susu sampai bahan lainnya. Semuanya handmade bukan diambil dari pabrik jadi kualitas akan tetap terjaga. Bahkan es krim yang berasal dari Italia ini tidak menggunakan pengawet untuk tetap memperhatikan rasa dan kepuasan pelanggannya.
Tapi sayangnya, ada pengalaman yang kurang mengesankan disini. Yeah kami merasa dilayani dengan kurang ramah (galak deh sungguh) bahkan sempat pesanan kami hilang begitu saja sehingga harus menunggu cukup lama. Hmm apa ini produk pelayanan lama yang melengkapi kunonya bangunan yang tidak memperhatikan kualitas pelayanan? Kalau tidak ingat enaknya es krim Ragusa ini, ilfil juga sama kondisi tersebut. Baiklah, tak ada gading yang tak retak..
Sama seperti di es podeng dan soto gebrak sebelumnya, di ragusa juga ada simbiosis antar pedagang. Selain bisa menikmati es krim khas Itali, kita juga bisa menikmati jajanan tradisional yang terjaja tepat di depan Ragusa. Ada penjual otak-otak, Mie Juhi, dan Asinan. Harganya sekitar 10 ribu rupiah saja. Berhubung es krim selayak cemilan, jadi jajanan-jajanan itu lumayan untuk mengganjal perut. Mie Juhi ini unik juga ya (hehe mungkin karena pengalaman men-juhi pertama kali juga), jadi ada mie ditaburi bumbu kacang terus dilengkapi cumi tipis kering yang disebut Juhi. Nice!
Alkisah dahulu kala, ada warung bernama Tek Sun Ho di jantung kotaBatavia. Ada seorang perempuan pribumi berkebaya yang menjadi pemasok keliling barang-barang yang dijual di toko milik Liaw Tek Siong itu. Suatu hari si ibu yang memanggul dagangannya di kepala ini mencoba menawarkan biji kopi kepada pemilik toko itu. Penasaran dengan biji yang masih asing itu, biji kopi itu coba-coba disangrai secara sederhana, kemudian diolah menjadi bubuk kopi dan dijadikan minuman olahan yang dicoba disajikan kepada pengunjung warung nasi. Ternyata belakangan masyarakat lebih senang menikmati kopi dibandingkan makan nasi. Maka fokus usaha menjadi usaha penggorengan kopi dan jadilah usaha penggorengan kopi pertama di Jakarta. Toko ini disebut juga Warung tinggi karena merupakan bangunan tertinggi di wilayahnya.
Kini warung Tek Sun Ho tinggalah kenangan. Barulah keturunan keempat dari Liaw Tek Siong mulai mengembangkan kedai kopi Bakoel Koffie di tahun 2001, bermula di jalan Barito. Nama Bakoel Koffie terinspirasi dari perempuan Jawa pemanggul kopi di atas.
Yang menarik disini, mereka menjajakan hanya biji lokal Indonesia. Ada 3 pilihan campuran biji kopi asli di Bakoel Koffie. Heritage 1969 merupakan campuran kopi lembut beraroma dalam. Black Mistcampuran kopi Jawa dan Sumatera beraroma butter dan caramel. Dan Brown Cow campuran biji kopi Sumateran dan Jawa meawarkan aroma kacang-kacangan.(Sumber Seri Gaya Hidup Sehat, Passion of Coffee)
Saatnya pesan, timbang-timbangnya pun lama. Ingin mencoba kopi yang sudah ngeblend tapi ga mau kehilangan rasa dan aroma biji kopi yang asli. Dengan mengucap Bismillah, akhirnya pilih yang ngeblend. Senang sekali bahwa akhirnya kita tidak kecewa, biarpun sudah diblend dengan racikan lain, rasa biji kopinya tetap terasa kental, dan kami terpuaskan. Slrruuupp :D
Road to Sukabumi ini dalam rangka perayaan cinta seorang sahabat dan berlibur juga tentunya. Berkumpul bersama teman-teman tumbuh kembang, yang banyak memberi arti dan sejuta tawa ;)
Karena kita ga dapat tebengan, betualang berkendaraan umum lah kita jadinya. Karena dianjurkan untuk tidak naik bis kesana, maka naiklah kereta Pakuan Ekspres Gambir-Bogor. Sayangnya datangnya kereta tidak seekspres namanya, telat satu jam kira-kira. Dan banyak juga ternyata peminatnya sampai puas berdiri dan memandang di balik kaca. Stasiun Bogor bangunannya klasik juga ya dan kita bertemu petugas-petugas kereta api nan baik hati yang ngebolehin kita numpang makan. Disantaplah bekal kasih sayang dari tante Ida :D
Perjalanan belum berakhir, setelah dari stasiun kita menuju terminal Bogor. Biarpun katanya Bogor “sejuta” angkotnya tapi suka kok dengan kota ini,hehe. Suka dengan kota kecil macam ini.
Dari terminal, kita naik elf (L300) ke Sukabumi, sempet mogok di tengah jalan, lalu ternyata perjalanan cukup panjang dan bergelombang, haha. Berhasil sudah membuat wajah kami seperti tambang minyak dan kucel. Yah tapi terbayar dengan sampai kesana bertemu teman-teman yang lain.
Hari ini wiskul berlanjut di Nasi Uduk Ungu :D. Bukan karena rasanya blueberry lho, tapi memang warnanya saja yang kreatif nan ungu.
Apa yang menarik di Sukabumi ini, selain bercengkrama dengan teman-teman, disini bisa merasakan nuansa budaya yang berbeda. Temanku Maria Angelina yang bertunangan ini adalah enci Chinese kesayangan kami. Maka ini jadi pengalaman pertama menyaksikan adat pertunangan Budaya China. Ada acara penyuguhan teh untuk keluarga yang meminang dan yang paling menyenangkan untuk kita2 adalah pembagian angpaw, haha.
Apapun budayanya, tapi satu yang kami mengerti, bahwa teman kami sedang memulai mengikat janji sebagai perwujudan kasih sayang dan kami teman-temannya dengan kasih sayang juga turut berbahagia.
Let’s call it circle LOVE..
Let's meet real life in 2010 then. Have a wonderful year everyone ^_^
Tampaknya setiap orang pernah merasa stres, tak terkecuali diri kita sendiri, teman dekat, sahabat, juga keluarga. Stres bisa jadi hal yang baik dan sudah pasti bisa menjadi hal yang buruk, tergantung bagaimana kita mengelolanya dan bagaimana kondisi stres tersebut terjadi, apakah akut atau kronis. Mari cermati artikel berikut, terutama untuk sahabat-sahabat saya yang merasa depresi, just remember there's up and down, your life not always in bottom, just remember after bad time there's a good time..^_^
Stres Menguras Nutrisi Otak Sumber Kompas, 4 November 2009
Ada kalanya stres diperlukan untuk memacu prestasi. Tapi jangan anggap enteng stres yang berulang, karena ia akan seperti badai yang menguras nutrisi otak dan memunculkan berbagai penyakit fisik.
Pilih mana, lari dari tembakan aparat yang menggunakan peluru tajam saat berdemonstrasi menuntut reformasi, atau menghadapi lalu lintas yang macet total selama dua jam karena demonstrasi? Mungkin Anda akan dengan cepat berkata, “Tidak semuanya.” Tapi kalau diharuskan memilih, biasanya orang cenderung memilih lalu lintas yang macet.
Kedua situasi itu memang akan menimbulkan reaksi yang sama pada fisik dan psikis kita. Yaitu stres, dan darah serta adrenalin mengalir deras. Tapi kalau mengacu pada pendapat ahli endokrinologi dari Universitas Rockefeller di New York, Bruce McEwen, sebaiknya pilih ditembaki aparat saja. Bahkan lebih baik dikejar harimau lapar daripada menghadapi kemacetan lalu lintas. Kok, bisa?
McEwen punya alasan. Lari dari tembakan aparat atau dari kejaran harimau hanya akan mendatangkan stres yang singkat walaupun tampaknya lebih menakutkan, sedangkan tubuh kita sudah dirancang supaya mampu menghadapi situasi seperti itu. Lain halnya stres yang lama, berulang-ulang, dan kronis, tubuh kita tidak dipersiapkan untuk itu dan akibatnya dapat merusak otak.
Stres atau keadaan yang menekan secara fisik maupun psikis, sering dianggap sebagai ‘teman’. Disebut teman, karena ada kalanya situasi menekan itu justru mampu menghasilkan prestasi dan produktivitas. Karena itu para psikolog sering menasihati, stres tidak perlu dihindari atau pun dilawan, tapi dikelola. Sayang, tak semua orang mampu mengelola stres, sehingga banyak penyakit (fisik) yang timbul. Mulai dari maag, liver, jantung, stroke, kanker dan sebagainya. Karena itu semboyan dalam tubuh sehat terdapat jiwa yang sehat, tidak tepat lagi. Ilmu pengetahuan menunjukkan, dalam jiwa yang sehatlah terdapat tubuh yang sehat.
Membentuk Memori “Perasaan kecewa maupun kehilangan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, stres yang berbeda-beda setiap hari, semuanya memberi dampak,” ujar Dra. Nilam Widyarini, MS., lulusan Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogya.
Pengajar di Universitas Atmajaya Jakarta ini lantas menerangkan, keadaan yang menimbulkan stres, baik secara fisik maupun psikis, akan menimbulkan reaksi kimia luar biasa pada tubuh. Segera setelah seseorang mengalami situasi stres, otak akan mengirim pesan kepada saraf agar melepaskan adrenalin dan kimia otak lain, untuk dikirimkan sebagai energi kepada otot. Yang lebih penting lagi, ada bagian kecil pada otak yang disebut hippothalamus, akan mengirim pesan kepada kelenjar di bawah otak agar mengalirkan hormon corticotrophin ke dalam darah.
Pada gilirannya, hormon ini akan meminta kelenjar adrenal supaya mengeluarkan lebih banyak hormon stres (glucocorticoids). Hormon ini akan memerintahkan tubuh supaya membanjiri darah dengan gula, agar segera memiliki energi untuk lari dari bahaya.
Hormon stres terutama sekali tampak ‘menggemparkan’ bagi bagian otak yang disebut hippocampus. Bagian inilah yang memainkan peranan penting dalam membentuk memori.
Dalam buku panduan mengenai stres berjudul Why Zebras Don’t Get Ulcers, Robert Sapolsky menjelaskan bahwa jika berhasil mengatasi situasi stres, kita ingin bisa mengingatnya supaya lain kali bisa menghindarinya. Dalam peristiwa yang sangat mengguncangkan, biasanya memori akan menajam. Mungkin inilah yang bisa menjelaskan, mengapa kita sulit melupakan tragedi ‘65 atau kerusuhan Mei ‘98.
Stres Berulang Kadang orang mengalami stres secara berulang, dan akibatnya glucocorticoids akan membanjiri otak. Lama kelamaan manfaat hormon stres hilang, sehingga memori akan memburuk, tingkat energi turun, dan problem kesehatan muncul.
Menurut Sapolsky, dalam beberapa hari saja hormon stres meningkat, akan melemahkan (bahkan mematikan) sel hippocampal jika suplai oksigen terhenti, seperti yang terjadi saat stroke atau serangan jantung.
Stres traumatik seperti yang terjadi pada anak-anak korban kekerasan seksual, veteran maupun korban perang, tentu saja lebih besar kemungkinannya merusak otak. Dalam American Journal of Psychiatry dijelaskan bahwa veteran perang rata-rata hippocampal otak kanannya berkurang 8%. Anak korban kekerasan seksual ukuran hippocampal pada otak kirinya berkurang 12%.
Studi lain yang dilakukan intensif selama empat tahun terhadap sekelompok wanita diketahui, mereka yang hormon stresnya sering meningkat, hippocampal pada otaknya berkurang 14%. Dari pemeriksaan pasien depresi diketahui, ukuran hippocampal-nya berkurang 19% dibanding orang yang sehat.
Melihat akibatnya yang sangat buruk itu, satu-satunya cara agar kita tetap sehat adalah sebisa mungkin mengelola stres.
Ayat ayat cinta sudah biasa, bagaimana dengan ayat-ayat hilang? Baru-baru ini tersiar berita ayat 2 pasal 113 dalam UU Kesehatan yang membahas mengenai tembakau sebagai zat adiktif hilang ketika diserahkan kepada Setneg untuk ditandatangani presiden. Apakah ini hanyalah kesalahan administratif belaka atau tindakan korupsi terhadap ayat? Sangat mencurigakan karena kita tahu sendiri banyak pihak yang berkepentingan terhadap tembakau yang notabenenya beromzet besar ;). Jika memang terjadi kesalahan administratif, ternyata lembaga sekaliber DPR bisa seceroboh itu selayak saya pegawai rendahan biasa, haha, well so human being. Dan satu lagi, ternyata mereka juga deadliners alias kejar tayang, terbukti dari pernyataan bahwa di akhir masa jabatan mereka sedang ditarget pengesahan 4 RUU. Hmm, dan ternyata lagi, ini bukan kali pertama terjadi, sebelumnya pernah terjadi juga kasus hilang-hilang ayat semacam ini. Jika memang ada tindak pidana korupsi, wah wah peraturan saja bisa diperjual-belikan, UU dipermainkan sesuai kepentingan, kepada siapa kita harus percaya? Lucunya, kalau mau curang kok pake ceroboh segala, hilang ayatnya tapi penjelasan ayatnya masih ada, haha..Ayolah para wakil rakyatku...!!
Semoga bisa diusut "seadil2nya"..
Berikut update berita2 mengenai kasus hilang ayat ini..:
title : Kembalikan UU ke DPR, Setneg Minta Ayat Rokok Dicantumkan Lagi summary : Sekretariat Negara telah mengembalikan kembali draf UU Kesehatan ke DPR. Setneg meminta DPR untuk mencantumkan kembali ayat tentang tembakau yang telah raib, sesuai dengan rapat paripurna pengesahan UU tersebut. (read more)
Simpati yang tulus saya sampaikan pada para korban gempa di Sumatra sana. Ingin rasanya tidak hanya sekedar bersimpati, tapi belum berdaya untuk beraksi langsung disana. Yang bisa saya lakukan hanya berbagi informasi dalam rangka tanggap bencana pasca kejadian.
Dampak dari bencana gempa, selain kerusakan property, korban luka maupun meninggal dunia, dan trauma, ada dampak yang penting juga untuk diperhatikan yaitu penyakit pasca bencana. Salah satunya adalah leptospirosis.
Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakterileptospira yang menyerang hewan dan manusia. Manusia terinfeksi bakteri leptospira melalui kontak dengan air, tanah atau tanaman yang telah dikotori oleh air seni hewan penderita leptospirosis. Hewan yang biasanya merupakan sumber penyakit yang berbahaya tersebut adalah tikus, yang menularkan penyakitnya melalui air kencingnya. Air kencing yang sudah terkontaminasi bakteri bisa masuk ke tubuh manusia melalui goresan/luka pada kulit manusia.
Kasus penyakit leptospirosis terutama terjadi pada daerah-daerah yang sering terjadi banjir. Berdasarkan profil kesehatan Indonesia 2007, kasus pada tahun 2007 adalah kasus tertinggi disbanding tahun-tahun sebelumnya karena pada beberapa daerah khususnya Jakarta dan Jawa Tengah terjadi bencana banjir. Berkaca dari kejadian tersebut, penyakit ini patut diwaspadai. Komplikasi dari penyakit ini dapat menyerang organ hati dan komplikasi berupa gagal ginjal, gagal jantung, batuk darah, nyeri dada, sesak napas, keguguran, bayi cacat atau premature, kerusakan pembuluh darah, hingga kematian. Awal penyakit dapat berupa demam, sakit kepala, muntah, lesu, radang mata, nyeri betis dan punggung, hingga terjadi meningitis (radang pada otak).
Bagaimana dengan pasca gempa? Kondisi pasca gempa pun dapat berpotensi menimbulkan penyakit leptospirosis yang berasal dari reruntuhan bangunan yang tidak segera dibersihkan. Reruntuhan tersebut bisa menjadi sarang tikus yang notabenenya sumber dari penyakit ini. Para korban maupun relawan dan petugas yang sedang membersihkan reruntuhan atau puing-puing bangunan harap waspada dan melengkapi diri dengan perlindungan seperti sarung tangan dan boot atau sepatu tertutup. Sarung tangan digunakan untuk menghindari kontak langsung dengan sumber penyakit maupun untuk menghindari luka akibat tertusuk paku atau penyebab luka lainnya selama proses pembersihan reruntuhan. Selain itu, sangat disarankan menggunakan sarung tangan jika akan mengevakuasi korban meninggal karena dapat menjadi sumber penyakit apalagi jika sudah membusuk. Sepatu pun digunakan untuk tujuan yang sama, menghindari luka dan menginjak kotoran tikus.
Tapi jika malang sudah menimpa, pengobatan dapat dilakukan dengan penggunaan antibiotic dan segera berobat ke dokter.
Semua orang pasti berharap selalu dalam kondisi sehat. Kondisi sehat merupakan kondisi sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Nah pemerintah (dalam hal ini DepKes) bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Peningkatan derajat kesehatan bukan hanya urusan pemerintah mampu mengobati tetapi usaha yang lebih comprehensif dimulai dari pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif).
Kenapa sih kesehatan itu penting? Sederhananya, kalau kita tidak sehat, apa sih yang bisa kita lakukan? Ingat pepatah, Health is not everything but without health everything is nothing (Dr. Bernard Jensen). Dengan ini, kesehatan tentunya jadi modal utama untuk pembangunan, sebelum memikirkan pos-pos lainnya. Contoh teknisnya, anak-anak akan bisa menerima pendidikan dengan baik jika dia dalam keadaan sehat, bayangkan bisakah jika dia sedang kurang gizi atau demam berdarah? ;)
Saya setuju dengan artikel berikut ini. Sudah saatnya pemerintah lebih concern terhadap tindakan promotif dan preventif. Dengan itu, pemerintah tidak begitu dipusingkan dengan pengobatan yang "notabenenya" mahal. Kalau boleh "bercanda", pengobatan yang mahal biar saja menjadi punishment bagi yang tidak melakukan tindakan promotif dan preventif dengan baik.
Menurut saya sinergisasi seperti yang ditulis di artikel berikut, seharusnya bisa menghemat budget, karena satu program dicanangkan oleh lintas sektor, yang penting programnya diefektifkan untuk kemajuan masing-masing sektor tersebut. Istilahnya, kalau kita mau beli barang, kalau patungan akan jadi lebih ringan bukan? :D
Semoga memang bisa berjalan dengan baik fungsi pengawasan dan pelaksanaannya, serta berjalan "adil" tentunya, dalam artian pemerintah pusat tahu pasti proporsi pengawasan sesuai berkembangnya daerah.
Menemukan Kembali Depkes Oleh Purnawan Junadi, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Kompas, 26 September 2009
Berkali-kali Departemen Kesehatan dikritik tidak meletakkan prioritas penanganan kesehatan di Indonesia. Meski terjadi pergantian pejabat, kritik tak memacu perubahan.
Bergemingnya Departemen Kesehatan (Depkes) atas berbagai usulan tentang perannya kini, karena struktur organisasi Depkes praktis tidak berubah meski sejak UU Desentralisasi, urusan kesehatan termasuk urusan yang didesentralisasikan.
Meminjam istilah Peter Senge (Fifth Discipline, 1990): meski pejabat berbeda, selama struktur masih sama, perilaku akan tetap serupa. Artinya, perubahan akan terjadi jika struktur diubah.
”Menemukan kembali”
Dalam pidato di depan Sidang Paripurna DPR Agustus lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ingin melanjutkan reformasi birokrasi. Karena itu, diusulkan agar Depkes menjadi prioritas. Meminjam istilah David Osborne dan Ted Gaebler (Reinventing Government, 1992): kita mencoba ”menemukan kembali” Depkes.
Prinsip pertama dan terpenting, pemerintah harus mengendalikan, bukan mendorong. Argumennya, lembaga yang membina dan mengawasi hanya bisa efektif jika terpisah dengan lembaga yang melaksanakan. Ketidakfokusan Depkes adalah karena masih melakukan kedua fungsi itu meski urusan kesehatan termasuk yang didesentralisasikan.
Alasan manajemen kesehatan di daerah mungkin sebagian benar, tetapi sebagian lagi karena pusat belum siap melepas fungsi sebagai pelaksana. Desentralisasi memberi kesempatan instansi kesehatan pusat mengembangkan fungsi pengawas dan pembina, serta dinas kesehatan di daerah berfokus sebagai pelaksana.
Mungkin akan lebih mudah jika kita menganalogikan Depkes sebagai perusahaan besar dengan hampir 500 cabang di tiap kabupaten di Indonesia.
Sebagai ”perusahaan” yang keuntungannya adalah orang sehat, tugas utamanya adalah mengubah paradigma sakit ke paradigma sehat. Menjaga kesehatan mempunyai lebih banyak dimensi yang bisa ”dijual” daripada menggunakan pengobatan.
Artinya, produk cabang (dinas kesehatan) bisa berupa: menjaga lingkungan agar lebih sehat, mempromosikan perilaku yang menjaga kesehatan dan mencegah penyakit, memperbaiki gizi penduduk sehingga generasi mendatang secara genotif-fenotif lebih baik, serta menyediakan layanan kesehatan. Produk promotif dan preventif perlu diprioritaskan karena mempunyai ”keuntungan” lebih tinggi.
Skema pembiayaan diatur agar harga berbagai produk itu terbeli oleh orang yang membutuhkan. Mengingat orientasi kita adalah sehat, maka skema pembiayaan perlu diatur agar secara memadai orang mengonsumsi produk promotif dan preventif. Jika produk promotif dan preventif lebih laku, kebutuhan pelayanan kesehatan bisa berkurang.
Agar bisa menjual berbagai produk itu dengan baik, dinas kesehatan perlu dilengkapi tidak hanya dokter, tetapi tenaga yang berkompeten di lingkungan kesehatan, promosi kesehatan, dan pencegahan penyakit. Tiap jenis tenaga ini perlu dihitung sesuai kondisi wilayah.
Di wilayah, banyak sektor yang ”produk jual”-nya berdampak pada kesehatan manusia. Beberapa produk itu ada yang sinergis dengan kesehatan, misalnya penyediaan air bersih, penyediaan dan distribusi pangan.
Karena itu, tugas ”perusahaan besar Depkes” adalah agar dinas kesehatan bekerja sama dengan berbagai sektor sehingga produk yang muaranya serupa bisa saling sinergi. Terhadap produk kontraproduktif, lobi dan negosiasi dilakukan agar sektor itu bisa mengubah bahan, metode produksi, atau cara lain sehingga hasilnya lebih ramah lingkungan dan dengan sendirinya ramah kesehatan.
Dalam bahasa pemerintah, ini adalah perencanaan program wilayah. Sektor kesehatan harus mendidik tenaga kesehatan yang tidak hanya bisa membuat program kesehatan, tetapi juga melakukan lobi dengan DPRD guna memproduksi peraturan daerah yang mendukung kesehatan maupun negosiasi dengan sektor-sektor lain sehingga perencanaan wilayahnya berwawasan kesehatan.
Riset
Mengingat kini ada 477 dinas kesehatan kabupaten/kota, bagaimana membuat pembinaan yang efektif? Di sinilah pentingnya Depkes melakukan riset semua kabupaten, membuat peta wilayah berdasar status kesehatan, risiko kesehatan, kemampuan produk, dan kompetensi tenaga.
Wilayah yang problematik ditandai kuning atau merah. Depkes bekerja sama dengan dinas kesehatan provinsi membina wilayah kuning dan merah agar menjadi hijau. Depkes menjadi pusat informasi dan pengalaman, memfasilitasi tim wilayah kuning/merah untuk belajar ke wilayah hijau, mengundang tim wilayah sukses bicara di pertemuan nasional yang dihadiri tim serupa, sampai mengirim pakar, dari pusat maupun wilayah sukses ke wilayah yang perlu dibantu. Teknologi informasi bisa digunakan untuk memudahkan akses informasi dan bagi pengalaman.
Ringkasnya, jika Depkes beralih fungsi menjadi institusi pembina, fungsi-fungsi penting, seperti riset dan pengembangan, promosi kesehatan, serta pengawasan lingkungan kesehatan, perlu mendapat struktur dan anggaran memadai.
Berbagai model jaringan itu terbukti menghasilkan keuntungan lebih besar. Jika pemerintah berorientasi hasil, seperti tercermin dalam prinsip ”menemukan kembali” Depkes yang berorientasi sehat, mengapa tidak kita contoh?
Masa-masa tidak berpuasa di bulan puasa menjadi masa-masa tersiksa. Sulit cari makan di siang bolong terus harus makan atau minum di tempat-tempat tersembunyi (sampe minum pun kadang harus ke WC dulu, huoho). Menyiasati kondisi seperti ini, akhirnya belanja spontan makanan-makanan instant bungkusan, dari mulai bubur instant, mie instant, sampe kentang instant. Alhasil jadi biasa lemas-lemas karena kurang gizi atau gizi tak berimbang. Dilihat dari komposisinya, makanan-makanan ini banyak mengandung karbohidrat, tetapi kurang protein, vitamin dan mineral. Gejala paling mudah terasa yah seperti kurang bersemangat, mungkin akibat kurang energi dan ketidakseimbangan hormon (protein salah satu fungsinya membentuk zat pengatur hormon). Dicicip-cicip ternyata semua makanan instant ini rasa bumbunya sama, hehe rasa-rasa kaya akan MSG dan pengawet.
Usut punya usut, yang dikhawatirkan dari makanan instant ini adalah kalorinya yang tinggi, bukan sekedar unsur pengawet ato penyedapnya. Makanan instant sudah melalui proses berulang sehingga kandungan gula sederhana pada makanan instan mudah terserap tubuh. Padahal, ketika mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi, seperti kebanyakan makanan instan, menyebabkan rasa candu. Rasa ini didapat dari perasaan nikmat akibat gula darah yang lekas naik. Kemudian ada efek craving (perasaan ingin selalu ngemil), begitu gula darah turun cepat.
Selain indeks glikemik yang tinggi, makanan instan yang diolah berulang ini sudah pasti kurang mengandung serat. Padahal, pada kondisi normal, serat amat dibutuhkan untuk menjaga siklus buang air besar (BAB) secara teratur dan mengimbangi intake kalori yang terlalu banyak. Serat ini dibutuhkan untuk mengurangi penyerapan makanan yang diasup jadi kalau kurang serat akibatnya makanan cepat terserap.
Pola makan yang tinggi kalori dan kurang serat terus menerus, dapat menyebabkan kegemukan pada anak-anak. Apalagi makanan dengan indeks glikemik tinggi memicu produksi insulin terus menerus yang memungkinkan risiko diabetes pada anak akan meningkat.
Hehe, semoga ini cuma pola instant karena desakan situasi. Ketika berpuasa lagi, semoga bisa insyaf lagi asupan makanannya. Terkadang makan makanan instant terasa seperti guilty pleasure, jelas-jelas tau kurangnya apa, tapi senang mengonsumsi bukan?hehe...disajikan cepat dan murah meriahnya itu lho menjadi daya pikat. Jangan-jangan menjamurnya berbagai jenis makanan instant dan konsumsinya yang akhirnya juga meningkat, menyebabkan pola pikir yang serba instant juga :D.
Kalau diteliti kemungkinan peningkatan konsumsi makanan instant sebanding dengan peningkatan pendaftar Indonesian Idol atau KDI atau bahkan jalan pintas kaya dengan korupsi. (hehe just joke!)
Tinggal di Jakarta 6 bulan terakhir ini, cukup melegakan karena tidak harus menikmati kemacetan Jakarta di pagi saat pergi kantor ataupun di sore saat pulang kantor. Cukup menyehatkan juga karena setiap pagi harus berjalan kaki dari kostan ke kantor. Hehe begitulah nikmatnya tempat tinggal dekat dengan aktivitas sehari-hari. Usut punya usut, berjalan itu menyehatkan dan sebaiknya kita berjalan konstan setiap hari minimal 10 menit. Manfaatnya yaitu (dikutip dari Kompas 13 Agustus 09) :
- Meningkatkan energi Berjalan kaki secara rutin, minimal 25 menit per minggu (dilakukan seminggu 3 kali), bisa meningkatkan energi tubuh hingga 18 persen. Ini menurut penelitian dari Pennington Biomedical Research Center. Angka itu bahkan bisa bertambah tinggi, apalagi lebih dari 10 menit dalam sehari.
- Terhindar dari diabetes tipe 2 Dari Program Pencegahan Diabetes diketahui, orang yang berjalan selama 150 menit dalam seminggu, mampu mengurangi risiko terkena diabetes hingga 58 persen. Namun, ini bila disertai dengan laju penurunan berat badan sebanyak 7 persen dari bobot tubuh.
- Menyehatkan otak Penelitian seputar kaitan antara aktivitas berjalan kaki dengan fungsi kognitif menyimpulkan hal yang menarik. Wanita yang rutin berjalan dengan langkah ringan lebih dari 1,5 jam per minggu, memiliki kemampuan kognitif sangat baik, ketimbang yang aktivitas berjalan kakinya tak lebih dari 40 menit dalam seminggu.
- Memperkuat tulang Wanita yang telah menopause disarankan untuk berjalan kaki sejauh 1,6 km secara rutin. Studi membuktikan kebiasaan ini mampu meningkatkan kekuatan massa tulang tubuh dan memperlambat penurunan kualitas tulang kaki.
- Menyehatkan jantung Ini diketahui dari pengamatan terhadap 72.488 perawat dari Nurse's Health Study. Kebiasaan mereka berjalan kaki selama lebih dari 3 jam dalam seminggu, membuat risiko terhadap serangan jantung turun hingga 35 persen, dibandingkan para wanita yang jarang berjalan kaki.
Saat sedang berjalan kaki, pastikan postur tubuh kita sudah tepat. Postur yang benar saat berjalan sangatlah penting, agar kita dapat bernapas dengan baik, terhindar dari risiko sakit punggung dan bahu, serta meraih hasil latihan secara maksimal.
Postur ideal saat berjalan: - Badan tegak, tidak lemas. - Bahu tegap, tidak membungkuk ke depan. - Dagu sedikit terangkat, tidak menunduk. - Pandangan lurus ke depan, terarah ke objek sejauh 3-6 meter.
Hmm banyak bukan manfaatnya? apalagi untuk kita para wanita. So ladies, mari jangan bermalas-malasan untuk jalan :D.