Friday, January 15, 2010

Cermin...


Hmm 24 tahun sudah diberi amanat hidup, 24 sperti satu putaran jam dinding, juga selayak 24 jam saja.. Pastinya waktunya untuk bercermin ke belakang agar refleksi ke depan lebih baik lagi. Ada artikel yang pas banget buat hari ini, artikel ini diketik ulang dari majalah Tarbawi edisi 24 tahun 2001. Semoga bisa jadi bahan perenungan buat kita semua…Selamat menjalani hari ini dan menyongsong masa depan semua :)

Hari itu Umar bin Khattab menangis. Terbayang lekat dipelupuk matanya, kisah masa lalunya sebelum Islam. Sebuah rentetan episode jahiliyah yang pahit dan sulit terlupakan. Air matanya mengalir deras saat teringat anak perempuannya yang ia kubur hidup-hidup. Suara anak itu serasa masih memanggilnya, sayup-sayup meminta belas kasihnya.

Peristiwa itu benar-benar menggoreskan pilu yang sulit dihapus. Sesaat sebelum terbenam dibawah tanah, anak itu masih bermain riang mengiringi ayahnya yang menggali tanah dengan susah payah. Bahkan setiap kali debu dan sisa galian mengotori janggut sang ayah, anaknyalah yang penuh kasih membersihkan debu-debu itu. Ia tak sedikitpun mengerti bahwa galian itu dibuat untuk dirinya. Segalanya berlalu cepat dan umarpun mencatat peristiwa itu sebagai bagian dari sejarah hidupnya dimasa jahiliyah.

Waktu terus bergulir. Enam tahun sesudah Rasulullah diangkat menjadi Rasul, benih keimanan tersemai di dalam hati Umar bin Khattab. Sejak itu ia menjadi salah satu pembela Islam yag paling tegas. Bahkan ia yang mengusulkan dimulainya era perjuangan secara terang-terangan. Bersama Hamzah dan Umar, kaum muslimim keluar ‘unjuk kekuatan’ dihadapan orang-orang Quraisy. Bahkan dimasa selanjutnya, ia manjadi sahabat agung, menjadi khalifah kedua, dan termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga.

Ikrimah bin abu Jahal juga punya masa lalu. Anak tokoh besar Quraisy, Abu Jahal, itu tak kunjung masuk Islam. Bahkan hingga kota Mekkah, ditaklukkan oleh Rasulullah, ia tetap kukuh dengan kekafirannya. Ketika Rasulullah memutuskan bahwa termasuk salah satu yang harus dibunuh, Ikrimah melarikan diri. Akhirnya istri Ikrimah yang meminta agar Rasulullah memaafkan. Setelah mendapat jaminan dari Rasulullah, Ikrimah kembali dari pelarian lalu masuk Islam.

Saat menghadap Rasulullah itulah ia teringat apa yang telah ia lakukan pada masa lalunya. Karenanya ia ingin sekali menebus kesalahannya. Di hadapan Rasulullah, Ikrimah menyampaikan keinginannya, “Demi Allah, kalau umurku masih panjang, semua nafkah yang dulu aku keluakan untuk merintangi jalan Allah, akan aku lipat dari jumlah itu untuk berinfaq dijalan Allah.” Di kemudian hari ia mengisi hari-harinya dengan berislam secara baik. Ikrimah juga menjadi salah satu perawi hadits yang terkenal.

Seperti juga Umar, Ikrimah, dan para sahabat-sahabat Rasulullah yang lain, semua orang punya masa lalu, yang buruk maupun yang baik. Karena setiap langkah manusia adalah perilaku. Setiap kata yang terucap adalah perilaku. Segala tindakan yang dipilih adalah perilaku. Dan, segala yang telah kita lakukan akan tercatat dalam lembaran masa lalu kita. Setiap kita, setiap muslim, pasti punya masa lalunya sendiri. Yang menyedihkan ataupun yang menggembirakan. Masa lalu yang mungkin saja orang lain tidak pernah tahu. Bahkan orang yang sangat dekat sekalipun. Masa lalu yang hanya dirinya sendiri dan Allah saja yang tahu.

Seluruh yang pernah terjadi hanya bisa dilupakan, tetapi tidak akan pernah bisa dihapuskan atau dianggap tidak ada. Sebab ia telah terukir dalam sejarah peristiwa. Sesuatu yang pernah ada tidak mungkin dianggap tidak ada.

Tetapi bukan berarti masa lalu tidak punya manfaat. Justru keberadaannya menjadi sangat penting. Ia menjadi cermin bagi setiap orang untuk menata langkah hidupnya yang tersisa. Dalam Islam penghargaan fungsi masa lalu terletak pada dua hal mendasar.

Pertama, pada manfaatnya untuk tempat mengambil pelajaran. Artinya, manfaat masa lalu adalah untuk dijadikan tempat bercermin. Apa yang buruk dari masa lalu tidak boleh diulangi, sedang apa yang baik harus ditingkatkan. Pengalaman masa lalu adalah contoh konkrit dan bukti nyata dari bermacam ikhtiar. Masa lalu telah mengajarkan secara detail bagaimana orang gagal itu gagal, bagaimana orang sukses itu sukses, bagaimana orang sengsara itu sengsara.

Kedua, selain fungsi pelajaran, masa lalu menurut pandangan Islam adalah kumpulan anak tangga sejarah yang harus disambung dengan anak tangga yang baru. Hidup ini akan bergulir, dunia akan menjadi hidup, bila setiap generasi mengambil peran di zamannya masing-masing. Sebab dengan itu, ia telah menyambung masa lalu dengan sejarahnya hari ini. Sebab sejarah yang kita ukir hari ini akan mejadi masa lalu yang berharga bagi generasi sesudah kita. Begitu seterusnya.

Karenanya, jauh-jauh hari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam telah mengingatkan logika ini, ketika beliau bersabda, “Sesungguhnya sesudah kalian ada hari-hari yang menuntut kesabaran. Pada hari itu orang-orang yang teguh seperti yang kalian lakukan akan mendapat pahala 50 kali lipat dari kalian.” Para sahabat ingin menyakinkan, “Maksudnya 50 kali lipat dari pahala sesama mereka sendiri wahai Rasulullah?”, Rasulullah menjawab, “50 kali lipat pahala kalian” (HR.Tirmidzi). surah ini memberi landasan tentang anak tangga sejarah tersebut. Bahwa ketika hari kesabaran yang dimaksud itu tiba, hendaknya setiap muslim bersabar, berpegang teguh jalan Allah, seperti para pendahulu mereka. Dengan kesabaran dan keteguhan itu, Allah menjadikan pahala yang lebih banyak daripada pendahulu mereka. Dan, itulah inti dari kesinambungan sejarah.

Masa lalu yang paling dekat untuk diambil pelajaran adalah masa lalu diri sendiri. Ini akan memiliki arti sangat penting. Pertama, bila yang tercermini dari masa lalu adalah keburukan , maka seorang muslim akan bisa merasakan betapa tidak enaknya keburukan dan betapa indahnya kebaikan. Betapa gelapnya kekufuran dan betapa bercahayanya keimanan. Umar bin Khattan berkata, “Tidak ada yang mengerti nikmatnya Islam orang yang tidak mengerti rasanya Jahiliyah.” Maksudnya, kenikmatan Islam orang yang pernah merasakan kejahiliyahan akan sangat mendalam. Tak berlebihan, bila Allah Ta’ala mengumpamakan masuk Islamnya Umar seperti orang yang hidup sesudah mati hatinya.

Ketika Umar masuk Islam turunlah firman Allah yang artinya,

Dan apakah orang yang telah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami beri padanya cahaya terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditenga-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita, yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikian Kami jadikan orang-orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am 122)
Setiap manusia sebenarnya mengerti dan mengenali tabiat dirinya. Dengan mengaca dan bercermin pada lembaran masa lalu, seseorang bisa melihat arah perjalanan hidup yang sedang ditempuhnya . ia bisa merasakan kearah mana pergeseran perjalanan hidupnya. Kearah yang lebih baik atau kearah yang lebih buruk..?

Kedua, bercermin pada masa lalu akan menyadarkan bahwa akibat dari seluruh pilihan hidup ini akan kembali kepada masing-masing orang. Setiap kita akan kembali pada Alah sendiri-sendiri. Allah Ta’ala berfirman, “sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan dibalakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, dan Kami telah melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan diantara kamu. Sungguh telah terhapuskan (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sekutu Allah).” (QS. Al An’am:6)

Segala pilihan hidup kita akan kembali kepada diri kita sendiri. Dan Allah Ta’ala menegaskan, “Sesunggahnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu) maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri. Dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu) maka kemudharatannya kembali padanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemeliharamu.” (QS. Al An’am:104).Orang yang mengerti bahwa dirinya tidak akan pernah diselamatkan oleh orang lain, tentu akan lebih peduli kepada dirinya sendiri. Kelak kita, siapapun kita, apapun marga kita, setinggi apapun derajat kita, akam memikul sendiri segala perilaku yang telah kita lakukan.

Ketiga, mengenang perjalanan yang telah lewat, akan memberikan motivasi untuk menambah amal-amal dan memperbanyak tabungan kebaikan. Sejujurnya, setiap orang bisa merabah-rabah, sejauh mana sebenarnya prestasi amal yang telah dibuatnya. Setiap kita bisa menghitung apa yang telah kita lakukan. Karenanya, Rasulullah mengabarkan kelak setiap orang yang mati dan hendak memasuki kuburan, bisa merasakan apa yang kira-kira yang akan dibalaskan untuk dirinya.

Bercermin pada masa lalu, bekerja keras pada hari ini, dan menata hari esok, hanyalah salah satu cara untuk menyiasati hidup ini sebaik mungkin. Sebab seperti yang telah dikabarkan oleh Rasulullah, setiap kita hanya akan menjadi salah satu dari 4 jenis orang. “Diantara manusia ada yang dilahirkan dalam keadaan beriman, lalu hidup sebagai orang mukmin, dan mati sebagai orang mukmin. Ada yang lahir dalam kekafiran, lalu hidup sebagai orang kafir, dan mati sebagai orang kafir. Ada yang lahir dalam keadaan beriman, hidup sebagai orang mukmin, dan mati sebagai orang kafir. Ada lagi yang lahir dalam kekafiran, hidup sebagai orang kafir, dan mati dalam keadaan beriman.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim)

Al-baqillani mengutip sabda Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassallam, “Sesungguhnya seorang mukmin itu berada diantara dua hal yang sangat menakutkan. Antara usia yang telah berlalu, ia tidak tahu apa yang diperbuat Allah terhadap usia yang telah lewat itu, dan antara usia yang tersisa, ia tidak tahu apa yang telah Allah tetapkan atas dirinya. Maka hendaklah setiap jiwa mengambil untuk dirinya sendiri. Dari dunianya untuk akhiratnya, dan dari masa mudanya untuk masa tuanya dan dari hidupnya untuk sesudah kematiannya. Demi Dzat yang jiwaku ada ditanganNya, tidak ada waktu sesudah kematian waktu untuk berusaha. Sesudah dunia tidak ada kehidupan kecuali surga atau neraka.

0 komentar: