Monday, January 4, 2010

Pray, Eat, Love in My Verse

Tak terasa tahun cepat berganti, baru kemarin rasanya tahun baru 2009, sekarang sudah 2010 lagi. Baru kemarin rasanya mengalami apa, memiliki apa, bersama siapa, sekarang tidak mengalami itu, tidak memiliki itu, dan tidak bersama siapapun, ehehe what an implisit statement! :p

Bukan tipe yang suka pesta di malam t
ahun baru. Tapi malam tahun baru kali ini bisa menikmati keriaan dari jauh nan indah gemerlap. Di atap rumah teman di kawasan Jatiwaringin, malam itu kami bisa melihat pesta kembang api dari berbagai penjuru. Indah sungguh, dan betapa strategisnya posisi kami karena kembang api seolah mengelilingi kami dan juga terasa dekat. Pengalaman yang cukup mengesankan :). Ups, dan waktu terus berjalan bukan? waktunya meniti hari yang baru, cukup sudah tercengangnya. Dan tentunya memanjatkan do'a dan tafakur dalam hati bahwa tahun ini semoga lebih baik dari tahun yang lalu.

Let's PRAY...


Tahun baru 2010 ini kebetulan long-weekend. Mari berwisata kuliner :D
Yeap tanggal 1 januari dijadwalkan be
rwisata kuliner bersama Resty Yulidayani dan Meswati Fontianika (partner in crime, haha, no no partner in life :p). Disusun rencana akan menyusuri Es Podeng Setiabudi (yang akhirnya ke Soto Gebrak juga), Es Krim Ragussa, Bakoel Koffie dan Al-Safeer. Yang ternyata diselingi foto-foto di Istiqlal dan Taman Menteng, hehe.
Let's EAT...


Es Podeng dan Soto Gebrak
(Setiabudi, Depan SMA 3)
Es Podeng ini dijual dalam gerobak (terpisah lho ya dari Soto Gebrak, gerobaknya ada di depan Soto Gebrak). Sang empu keduanya mungkin sudah melakukan simbiosis mutualisme, dimana penikmat soto gebrak bisa menikmati es podeng juga di tempat Soto Gebrak.

Entah sebelumnya pernah makan es podeng atau tidak, tapi es podeng yang satu ini jempolan. Es podeng merupakan campuran dari sekoteng, kelapa muda, alpukat, kacang, tape, dan es krim. Es podeng ini bisa jadi suguhan penutup yang menyegarkan.
Teman makan es podeng kali ini yaitu Soto Gebrak Jangan har
ap ada ketenangan makan di rumah makan ini karena kerap terdengar suara keras, braaakk!!. Suara itu berasal dari bantingan botol kecap di atas papan kayu saat penjual meracik soto. Dari situ pulalah nama Soto Gebrak berasal, dari gebrak-gebrakan yang bisa menimbulkan berbagai sensasi. Bisa kesal, kaget pastinya, untuk yang ngantuk selamat karena anda pasti terjaga dan untuk yang latah selamat anda pasti menderita, haha. Slogannya pun tidak tanggung-tanggung menggelikan, yaitu “Senyum Boleh Marah Jangan”. Jadi tolong yang marah, segeralah baca slogan itu dan segera mengurut dada dan harap maklum.
Di Soto Gebrak ini makanan yang disajikan antara lain a
neka sop dan soto, seperti soto daging, soto ayam, soto campur jeroaan, soto combi daging ayam (maksudnya campuran antara daging sapi dengan daging ayam) dan rawon. Selain Soto Gebrak, ada juga menu sampingan yakni perkedel, sate telur muda, sate empal goreng, sate usus ayam goreng,sate udang goreng dan sate ati-ampela, dan emping.
Soal rasa cukup tasty (Bumbunya terasa dan gurih) dan worthed lah ya, tapi saya rasa yang lebih menjual ya sensasinya itu. Harganya
pun cukup terjangkau, di kisaran belasan ribu.

Es Ragusa (plus Juhi dan Asinan)

(Jalan Veteran I no. 10 Jakarta Pusat)

Next destination is Ragusa. Konon katanya tempat ini merupakan tempat es krim tertua di Jakarta. Pas sampai disana memang terjawab juga sih konon katanya itu. Saya pikir tempatnya akan seperti “tempat es krim” yang lux semacamnya, ternyata ketika masuk benar-benar bernuansa zaman dahulu (well saya ga mau juga bilang itu kuno, hehe). Bangunan bergaya Belanda (meskipun disebutkan Ragusa Es Italia) dilengkapi kursi rotan dan meja yang sederhana. Sekeliling dinding terpajang foto-foto hitam putih jaman dahulu dan ornament-ornamen antik. Pemilik tampak ingin mempertahankan nuansa antik dan tempo dulu. Tentu saja bukan sekedar menikmati nuansa tempo dulu, yang lebih penting adalah es krimnya. Jenis-jenis es krimnya unik-unik, ada spaghetti ice cream, banana split, special mix, cassata siciliana, tutti frutti, chocolate sundae, nougat, dsb. Kami sepakat untuk memesan spaghetti ice cream dan cassata siciliana. Jangan bayangkan es krim rasa spaghetti lho, disebut spaghetti karen desain bentuk es krimnya seperti spaghetti. Sedangkan cassata siciliana berbentuk seperti kue bolu berwarna warni, nah yang ini memang ada sisipan kue seperti bolu di tengahnya. Untuk spaghetti dan siciliana ini harganya kisaran 25-30 ribu. Rasanya?? Yummyy!!

Konon katanya lagi, es krim disini menggunakan bahan-bahan berkualitas mulai dari susu sampai bahan lainnya. Semuanya handmade bukan diambil dari pabrik jadi kualitas akan tetap terjaga. Bahkan es krim yang berasal dari Italia ini tidak menggunakan pengawet untuk tetap memperhatikan rasa dan kepuasan pelanggannya.

Tapi sayangnya, ada pengalaman yang kurang mengesankan disini. Yeah kami merasa dilayani dengan kurang ramah (galak deh sungguh) bahkan sempat pesanan kami hilang begitu saja sehingga harus menunggu cukup lama. Hmm apa ini produk pelayanan lama yang melengkapi kunonya bangunan yang tidak memperhatikan kualitas pelayanan? Kalau tidak ingat enaknya es krim Ragusa ini, ilfil juga sama kondisi tersebut. Baiklah, tak ada gading yang tak retak..

Sama seperti di es podeng dan soto gebrak sebelumnya, di ragusa juga ada simbiosis antar pedagang. Selain bisa menikmati es krim khas Itali, kita juga bisa menikmati jajanan tradisional yang terjaja tepat di depan Ragusa. Ada penjual otak-otak, Mie Juhi, dan Asinan. Harganya sekitar 10 ribu rupiah saja. Berhubung es krim selayak cemilan, jadi jajanan-jajanan itu lumayan untuk mengganjal perut. Mie Juhi ini unik juga ya (hehe mungkin karena pengalaman men-juhi pertama kali juga), jadi ada mie ditaburi bumbu kacang terus dilengkapi cumi tipis kering yang disebut Juhi. Nice!



Bakoel Koffie

(Cikini)

Coffee time :D. Melangkah masuk ke café ini hidung dan mata kita langsung dimanjakan oleh wangi biji kopi dan pemandangan benda-benda tua yang berhubungan dengan proses pembuatan, penggilingan dan penyeduhan kopi. Namanya yang kedahulu-dahuluan bukan tanpa maksud, hal ini merujuk pada sejarah bisnis keluarga yang dirintas sejak zaman belanda dulu.

Alkisah dahulu kala, ada warung bernama Tek Sun Ho di jantung kota Batavia. Ada seorang perempuan pribumi berkebaya yang menjadi pemasok keliling barang-barang yang dijual di toko milik Liaw Tek Siong itu. Suatu hari si ibu yang memanggul dagangannya di kepala ini mencoba menawarkan biji kopi kepada pemilik toko itu. Penasaran dengan biji yang masih asing itu, biji kopi itu coba-coba disangrai secara sederhana, kemudian diolah menjadi bubuk kopi dan dijadikan minuman olahan yang dicoba disajikan kepada pengunjung warung nasi. Ternyata belakangan masyarakat lebih senang menikmati kopi dibandingkan makan nasi. Maka fokus usaha menjadi usaha penggorengan kopi dan jadilah usaha penggorengan kopi pertama di Jakarta. Toko ini disebut juga Warung tinggi karena merupakan bangunan tertinggi di wilayahnya.

Kini warung Tek Sun Ho tinggalah kenangan. Barulah keturunan keempat dari Liaw Tek Siong mulai mengembangkan kedai kopi Bakoel Koffie di tahun 2001, bermula di jalan Barito. Nama Bakoel Koffie terinspirasi dari perempuan Jawa pemanggul kopi di atas.

Yang menarik disini, mereka menjajakan hanya biji lokal Indonesia. Ada 3 pilihan campuran biji kopi asli di Bakoel Koffie. Heritage 1969 merupakan campuran kopi lembut beraroma dalam. Black Mist campuran kopi Jawa dan Sumatera beraroma butter dan caramel. Dan Brown Cow campuran biji kopi Sumateran dan Jawa meawarkan aroma kacang-kacangan.(Sumber Seri Gaya Hidup Sehat, Passion of Coffee)

Saatnya pesan, timbang-timbangnya pun lama. Ingin mencoba kopi yang sudah ngeblend tapi ga mau kehilangan rasa dan aroma biji kopi yang asli. Dengan mengucap Bismillah, akhirnya pilih yang ngeblend. Senang sekali bahwa akhirnya kita tidak kecewa, biarpun sudah diblend dengan racikan lain, rasa biji kopinya tetap terasa kental, dan kami terpuaskan. Slrruuupp :D


Al Safeer

(Jl. Raden Saleh Raya No.15, Jakarta Pusat)

Nah sekarang mari bertualang ke Timur tengah :D. Di sekitar Raden Saleh ini memang banyak resto nuansa keArab-araban. Seperti resto yang satu ini, ga kalah kental suasana Timur tengahnya, dari mulai interior, café di luar dengan Sishanya dan lesehan kearab-araban. Disini konon yang terkenal kambing guling paket special. Tapi karena harganya yang lumayan, kita jadinya pilih menu lain saja. Untuk makanan beratnya kita pilih nasi Biryani, nasi porsi besar dengan potongan ayam besar di tengah piring. Bentuk berasnya lebih panjang dari beras kebanyakan. Selain itu kita juga pesan Salad Khas Yaman, jadi salad ini campuran yoghurt, potongan sayuran kecil2, dan bumbu2 khusus. Untuk minum, kita pilih poci teh nanas, yang well tentu saja beraroma nanas, hehe. Lumayan jadi pengalaman juga merasakan suasana dan makanan yang berbeda, karena jika menyengajakan untuk makan di sini hari-hari biasa yah tampaknya tidak :D


Next day this new year, road to Sukabumi

Road to Sukabumi ini dalam rangka perayaan cinta seorang sahabat dan berlibur juga tentunya. Berkumpul bersama teman-teman tumbuh kembang, yang banyak memberi arti dan sejuta tawa ;)

Karena kita ga dapat tebengan, betualang berkendaraan umum lah kita jadinya. Karena dianjurkan untuk tidak naik bis kesana, maka naiklah kereta Pakuan Ekspres Gambir-Bogor. Sayangnya datangnya kereta tidak seekspres namanya, telat satu jam kira-kira. Dan banyak juga ternyata peminatnya sampai puas berdiri dan memandang di balik kaca. Stasiun Bogor bangunannya klasik juga ya dan kita bertemu petugas-petugas kereta api nan baik hati yang ngebolehin kita numpang makan. Disantaplah bekal kasih sayang dari tante Ida :D

Perjalanan belum berakhir, setelah dari stasiun kita menuju terminal Bogor. Biarpun katanya Bogor “sejuta” angkotnya tapi suka kok dengan kota ini,hehe. Suka dengan kota kecil macam ini.

Dari terminal, kita naik elf (L300) ke Sukabumi, sempet mogok di tengah jalan, lalu ternyata perjalanan cukup panjang dan bergelombang, haha. Berhasil sudah membuat wajah kami seperti tambang minyak dan kucel. Yah tapi terbayar dengan sampai kesana bertemu teman-teman yang lain.

Hari ini wiskul berlanjut di Nasi Uduk Ungu :D. Bukan karena rasanya blueberry lho, tapi memang warnanya saja yang kreatif nan ungu.

Apa yang menarik di Sukabumi ini, selain bercengkrama dengan teman-teman, disini bisa merasakan nuansa budaya yang berbeda. Temanku Maria Angelina yang bertunangan ini adalah enci Chinese kesayangan kami. Maka ini jadi pengalaman pertama menyaksikan adat pertunangan Budaya China. Ada acara penyuguhan teh untuk keluarga yang meminang dan yang paling menyenangkan untuk kita2 adalah pembagian angpaw, haha.

Apapun budayanya, tapi satu yang kami mengerti, bahwa teman kami sedang memulai mengikat janji sebagai perwujudan kasih sayang dan kami teman-temannya dengan kasih sayang juga turut berbahagia.

Let’s call it circle LOVE..


Let's meet real life in 2010 then. Have a wonderful year everyone ^_^


0 komentar: